TUGAS
MATEMATIKA
DAN ILMU ALAMIAH DASAR
KELOMPOK
CRISMARIA
PURBA
I GUSTI
AGUNG AYU DIAN W
KURNIA
JOSSI BUDIASTUTI
RANI
SAAD FADILLAH
YOKHEBED
ADHITA YOHANA BANGUN
1PA15
FAKULTAS
PSIKOLOGI
UNIVERSITAS
GUNADARMA
2017
SOAL
A.
Himpunan dan bilangan
- Jelaskan pengertian himpunan dan anggota himpunan
- Sebutkan macam2 himpunan berdasarkan jumlah anggotanya
- Jelaskan operasi antar himpunan beserta contohnya
- Jelaskan mengenai himpunan bilangan dan sebutkan sifat2 bilangan
- Jelaskan perbedaan bilangan bulat dengan bilangan riil
B.
Relasi
- Jelaskan definisi dari relasi
- Menyajikan relasi dengan matriks relasi dan diagram panah
- Jelaskan relasi invers, dan komposisi relasi
- Jelaskan perbedaan sifat relasi
a.
Refleksif
b.
Transitif
c.
Simetris
d.
Anti simetris
C.
Fungsi
1. Jelaskan
definisi fungsi
2. Jelaskan
fungsi satu-satu (one to one) dengan fungsi pada (on to)
3. Jelaskan
perbedaan domain, kodomain, dan range satu fungsi
JAWABAN
A. Himpunan dan bilangan
1. Jelaskan pengertian
himpunan dan anggota himpunan
Himpunan adalah sekelompok /
kumpulan benda atau objek yang anggotanya dapat didefinisikan / ditentukan
dengan jelas.
Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa objek pada himpunan harus didefinisikan dengan jelas, agar supaya dapat dibadakan atau ditentukan antara benda / objek yang termuat dan yang tidak termuat pada himpunan.
Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa objek pada himpunan harus didefinisikan dengan jelas, agar supaya dapat dibadakan atau ditentukan antara benda / objek yang termuat dan yang tidak termuat pada himpunan.
2. Sebutkan macam2 himpunan
berdasarkan jumlah anggotanya
a.
Himpunan bilangan asli
A = {
1, 2, 3, 4, 5, ... }
b.
Himpunan bilangan cacah
C = {
0, 1, 2, 3, 4, .... }
c.
Himpunan bilangan prima
P = {
2, 3, 5, 7, 11, .... }
d.
Himpunan bilangan genap
G = {
0, 2, 4, 6, 8, 10, .... }
e.
Himpunan bilangan ganjil
G = {
1, 3, 5, 7, 9, .... }
f.
Himpunan bilangan komposit (tersusun)
T = {
4, 6, 8, 9, 10, 12, .... }
g.
Himpunan tak hingga
A = { 1, 3, 5, 7, ..... }, (n)A = ∞ (jumlah
anggota himpunan A adalah tak terhingga)
h.
Himpunan berhingga
B = { 1, 3, 5, 7 }, (n)A = 4 (jumlah anggota
himpunan B adalah sebanyak 4)
i. Himpunan kosong
K = { himpunan bilangan prima antara 7 dan 9 }, K = { } (jumlah anggota
i. Himpunan kosong
K = { himpunan bilangan prima antara 7 dan 9 }, K = { } (jumlah anggota
himpunan
K adalah tidak ada atau kosong)
j.
Himpunan bagian
A = {2, 3, 5 } dan B = { 1, 2, 3, 4, 5, 6 }
Semua anggota himpunan A adalah merupakan anggota himpunan B. Sehingga dapat dikatakan bahwa; A bagian dari B, ditulis A c B atau B memuat A ditulis B ﬤ A
Semua anggota himpunan A adalah merupakan anggota himpunan B. Sehingga dapat dikatakan bahwa; A bagian dari B, ditulis A c B atau B memuat A ditulis B ﬤ A
k.
Himpunan semesta
Bila A
= { 2, 4, 6, 8, 10 }, maka beberpa himpunan semesta pembicaraan yang tuk A
adalah;
S = { bilangan asli }
S = { bilangan cacah }
S = { bilangan kelipatan 2 }
S = { bilangan asli }
S = { bilangan cacah }
S = { bilangan kelipatan 2 }
- Jelaskan operasi antar himpunan beserta contohnya
Dalam matematika, himpunan adalah segala koleksi benda-benda tertentu yang dianggap
sebagai satu kesatuan. Walaupun hal ini merupakan ide yang sederhana, tidak
salah jika himpunan merupakan salah satu konsep penting dan mendasar dalam
matematika modern, dan karenanya, studi mengenai struktur kemungkinan himpunan
dan teori himpunan, sangatlah berguna.
Teori himpunan, yang baru
diciptakan pada akhir abad ke-19, sekarang merupakan bagian yang tersebar dalam
pendidikan matematika yang mulai diperkenalkan bahkan sejak tingkat sekolah
dasar. Teori ini merupakan bahasa untuk menjelaskan matematika modern. Teori
himpunan dapat dianggap sebagai dasar yang membangun hampir semua aspek dari
matematika dan merupakan sumber dari mana semua matematika diturunkan.
a. Anggota Himpunan
(a) Untuk menyatakan suatu benda (objek) yang merupakan
anggota himpunan dilambangkan " ∈"
dan jika bukan anggota dilambangkan " ".
(b)
Himpunan terhingga dan tak terhingga Himpunan terhingga adalah himpunan yang
anggotanya tertentu. Himpunan tak terhingga adalah himpunan yang anggotanya tak
terbatas jumlahnya.
b. Himpunan Kosong
Himpunan
kosong adalah himpunan yang tidak mempunyai anggota Notasi himpunan kosong
adalah { } atau {0} bukan himpunan kosong karena mempunyai anggota yaitu “nol”.
c. Himpunan bagian
A
himpunan bagian dari B jika setiap anggota A merupakan anggota himpunan B dan
ditulis "A( B". Jika banyaknya anggota suatu himpunan A adalah n(A),
maka banyaknya himpunan bagian dari A adalah 2n(A)
d. Himpunan semesta
adalah himpunan yang memuat semua
obyek yang dibicarakan. notasi "S".
Operasi Pada Himpunan
Jika S adalah himpunan semesta dan himpunan A Ì S , komplemen
dari A , ditulis A’ ,
adalah himpunan dari semua anggota S
yang bukan merupakan anggota A .
A’ = { x | x ÏA }
Gabungan (union) himpunan A dan himpunan B, ditulis
sebagai A È B, adalah sebuah himpunan yang anggotanya merupakan
anggota A atau anggota B atau anggota keduanya.
A È B = { x | x ÎA atau x ÎB }
Irisan (interseksi) himpunan A dan himpunan B, ditulis
sebagai A Ç B, adalah sebuah himpunan yang anggotanya merupakan
anggota bersama dari himpunan A dan B.
A Ç B = { x | x ÎA dan x ÎB }
Selisih (difference) dari himpunan A dengan
himpunan B, ditulis sebagai A - B, adalah sebuah himpunan yang anggotanya
merupakan anggota himpunan A yang bukan
merupakan anggota himpunan B.
A - B = { x | x ÎA dan x ÏB }.
Jelas bahwa
B - A = { x | x ÎB dan x ÏA }.
Selisih simetri (symetric difference) dari
himpunan A dengan himpunan B, ditulis sebagai A D B, adalah sebuah himpunan yang anggotanya merupakan
anggota gabungan himpunan A dan B,
tetapi bukan merupakan anggota irisan himpunan A dan B.
A D B = ( A È B ) – ( A Ç B )
atau
A D B = ( A – B ) È ( B - A ).
- Jelaskan mengenai himpunan bilangan dan sebutkan sifat2 bilangan
Jika
pada topik sebelumnya kamu telah belajar tentang operasi yang berlaku pada
himpunan, maka pada topik kali ini kamu akan belajar tentang sifat-sifat
operasi himpunan.
a.
Ketertutupan
Sifat ketertutupan
pada operasi himpunan mempunyai makna bahwa hasil dari pengoperasian dua atau
lebih himpunan menghasilkan satu penyelesaian berupa himpunan.
b.
Sifat Komutatif
Sifat komutatif pada
operasi himpunan hanya berlaku pada operasi irisan dan gabungan, yaitu A ∩ B = B ∩ A dan A ∪ B = B ∪ A.
Contoh:
Diketahui dua
himpunan A = {3, 4, 5, 6} dan B = {2, 3, 4}.
Tunjukkan bahwa A ∩ B
= B ∩ A dan A ∪ B = B ∪ A.
Penyelesaian:
A ∩ B = B ∩ A
Perhatikan
anggota-anggota pada himpunan A dan B. Anggota A ∩ B merupakan persekutuan dari
anggota pada himpunan A dan himpunan B. Anggota himpunan A yang terdapat di
himpunan B adalah 3, 4. Dengan demikian, A ∩ B = {3,4}. Selanjutnya, kita
tentukan B ∩ A. Anggota di himpunan B yang terdapat di himpunan A adalah 3, 4.
Dengan demikian, B ∩ A = {3, 4}. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa A
∩ B = B ∩ A.
A ∪ B = B ∪ A
Untuk menentukan A ∪ B,
kamu dapat menuliskan kembali semua anggota A dan B, yaitu 3, 4, 5, 6, 2, 3, 4.
Oleh karena ada dua nilai yang sama untuk 3 dan 4, maka dapat ditulis satu kali
saja, sehingga A ∪ B = {2, 3, 4, 5, 6}. Begitu pula untuk menentukan B ∪ A.
Dengan menuliskan kembali semua anggota B dan A dengan anggota yang sama
ditulis satu kali, yaitu 2, 3, 4, 5, 6, sehingga diperoleh B ∪ A
= {2, 3, 4, 5, 6}. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa A ∪ B
= B ∪ A.
c.
Sifat Asosiatif
Sifat asosiatif pada
operasi himpunan hanya berlaku pada operasi irisan dan gabungan, yaitu(A ∩ B) ∩ C = A ∩ (B ∩ C) dan (A ∪ B) ∪ C = A ∪ (B ∪ C).
Contoh:
Diketahui A = {p, q,
r, s}, B = {r, s, t} dan C = {q, r, s}.
Tunjukkan bahwa (A ∩
B) ∩ C = A ∩ (B ∩ C) dan (A ∪ B) ∪ C = A ∪ (B ∪ C).
Penyelesaian:
(A ∩ B) ∩ C = A ∩ (B ∩ C)
Anggota himpunan A
yang juga terdapat di himpunan B adalah r, s, sehingga diperoleh A ∩ B = {r,
s}. Adakah anggota himpuanan C yang sama dengan anggota di A ∩ B? Ternyata ada
yaitu r, s. Dengan demikian, (A ∩ B) ∩ C = {r, s}. Selanjutnya, perhatikan
anggota himpunan B yang terdapat di himpunan C yaitu r, s, sehingga B ∩ C = {r,
s}. Amati anggota himpunan A yang terdapat di himpunan B ∩ C yaitu r, s,
sehingga (A ∩ B) ∩ C = {r, s}. Dengan demikian dapat ditunjukkan bahwa (A ∩ B)
∩ C = A ∩ (B ∩ C).
(A ∪ B) ∪ C = A ∪ (B ∪ C)
Kita tentukan dahulu
(A ∪ B) ∪ C.
(A ∪ B)
∪ C = ({p, q, r, s} ∪
{r, s, t}) ∪ {q, r, s}
(A ∪ B)
∪ C = {p, q, r, s, t} ∪
{q, r, s}
(A ∪ B)
∪ C = {p, q, r, s, t}
Kemudian, kita
tentukan A ∪ (B ∪ C).
A ∪ (B
∪ C) = {p, q, r, s} ∪
({r, s, t} ∪ {q, r, s})
A ∪ (B
∪ C) = {p, q, r, s} ∪
{q, r, s, t}
A ∪ (B
∪ C) = {p, q, r, s, t}
Dengan demikian,
dapat ditunjukkan bahwa (A ∪ B) ∪ C = A ∪ (B ∪ C).
d.
Sifat Distributif
Sifat distributif
pada operasi himpunan hanya berlaku pada operasi irisan dan gabungan, yaitu A ∩ (B ∪ C) = (A ∩ B) ∪ (A ∩ C) dan A
∪ (B ∩ C) = (A ∪ B) ∩ (A ∪ C).
Contoh:
Diketahui himpunan A
= {1, 2, 3, 4, ..., 10}, B = {2, 4, 6, 8, 10} dan C = {1, 3, 5, 7, 9}.
Tunjukkan bahwa A ∩ (B ∪ C) = (A ∩ B) ∪ (A
∩ B).
Penyelesaian:
Langkah pertama,
tentukan hasil dari A ∩ (B ∪ C).
A ∩ (B ∪ C)
= {1, 2, 3, 4, ..., 10} ∩ ({2, 4, 6, 8, 10} ∪
{1, 3, 5, 7, 9})
A ∩ (B ∪ C)
= {1, 2, 3, 4, ..., 10} ∩ {1, 2, 3, 4, ..., 10}
A ∩ (B ∪ C)
= {1, 2, 3, 4, ..., 10}
Langkah kedua
tentukan hasil dari (A ∩ B) ∪ (A ∩ C).
(A ∩ B) = {1, 2, 3,
4, ..., 10} ∩ {2, 4, 6, 8, 10}
(A ∩ B) = {2, 4, 6,
8, 10}
(A ∩ C) = {1, 2, 3,
4, ..., 10} ∩ {1, 3, 5, 7, 9}
(A ∩ C) = {1, 3, 5,
7, 9}
(A ∩ B) ∪ (A ∩ C) = {2, 4, 6, 8, 10} ∪ {1, 3, 5, 7, 9}
(A ∩ B) ∪ (A ∩ C) = {1, 2, 3, 4, ..., 10}
Dengan membandingkan
hasil akhir langkah pertama dan kedua, dapat ditunjukkan bahwa A ∩ (B ∪ C) = (A ∩ B) ∪ (A ∩ B).
e.
Sifat Identitas
Sifat identitas yang
berlaku pada operasi irisan dan gabungan antara lain:
1. A ∩ ∅ = ∅
2. A ∩ S = A
3. A ∪ ∅ = A
4. A ∪ S = S
2. A ∩ S = A
3. A ∪ ∅ = A
4. A ∪ S = S
Contoh:
Diketahui S =
himpunan bilangan asli kurang dari 10 dan J = {2, 3, 5, 7}. Tentukan:
a. J ∩ ∅
b. J ∩ S
c. J ∪ ∅
d. J ∪ S
Penyelesaian:
S = himpunan bilangan
asli kurang dari 10 maka S = {1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9}
a. J ∩ ∅ = {2, 3, 5, 7} ∩ { } ( Ingat irisan dua himpunan
didapat dengan mencari anggota yang sama)
J ∩ ∅ = ∅
b. J ∩ S = {2, 3,
5, 7} ∩ {1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9}
J ∩ S = {2, 3, 5, 7}
J ∩ S = J
c. J ∪ ∅ =
{2, 3, 5, 7} ∪ {
} (Ingat gabungan dua himpunan didapat dengan menggabungkan semua anggota kedua
himpunan tersebut)
J ∪ ∅ =
{2, 3, 5, 7}
J ∪ ∅ =
J
d. J ∪ S = {2, 3, 5, 7} ∪ {1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9}
J ∪ S = {1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9}
J ∪ S = S
f.
Idempoten
Sifat idempoten yang
berlaku pada operasi irisan dan gabungan antara lain:
1. A ∩ A
2. A ∪ A
2. A ∪ A
Contoh:
Diketahui K = {4, 5,
6}. Tentukan:
a. K ∩ K
b. K ∪ K
Penyelesaian:
a. K ∩ K = {4, 5,
6} ∩ {4, 5, 6} = {4, 5, 6}
K ∩ K = K
b. K ∪ K = {4, 5, 6} ∪ {4, 5, 6} = {4, 5, 6}
K ∪ K = K
g.
Sifat Komplemen
Sifat komplemen pada
operasi himpunan hanya berlaku untuk irisan dan gabungan.
1. A ∩ Ac = ∅
2. A ∪ Ac = S
3. (Ac )c = A
4. ∅c = S
5. Sc = ∅
2. A ∪ Ac = S
3. (Ac )c = A
4. ∅c = S
5. Sc = ∅
Contoh:
Diketahui S = {2, 3,
4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11} dan L = {6, 8, 9, 10, 11}. Tentukan L ∩ Lc .
Penyelesaian:
Lc adalah semua
anggota himpunan S yang bukan anggota himpunan bagian dari himpunan L, sehingga
Lc = {2, 3, 4, 7}. Dengan demikian, diperoleh:
L ∩ Lc = {6, 8,
9, 10, 11} ∩ {2, 3, 4, 7}
L ∩ Lc = { }
L ∩ Lc = ∅
Jadi, L ∩ Lc = ∅.
h.
Sifat Pengurangan
Operasi pengurangan
pada himpunan tidak bersifat komutatif. Oleh karena operasi pengurangan tidak
bersifat komutatif, maka tidak bersifat asosiatif maupun identitas yaitu:
1. A - B ≠ B - A
2. A - (B - C ) ≠ (A
- B) - C
3. A - ∅ ≠ ∅ -
A
Contoh:
Diketahui M = {a, b,
c, d, e, f} dan N = {1, a, 2, b, 3, c}. Buktikan bahwa M - N ≠ N - M.
Penyelesaian:
M - N adalah himpunan
yang anggotanya merupakan anggota dari himpunan M dan bukan anggota himpunan N.
M - N = {a, b, c, d,
e, f} - {1, a, 2, b, 3, c}
M - N = {d, e, f}
N – M adalah himpunan
yang anggotanya merupakan anggota dari himpunan N dan bukan anggota himpunan M.
N – M = {1, a, 2, b,
3, c} - {a, b, c, d, e, f}
N – M = {1, 2, 3}
Dengan demikian,
terbukti bahwa M - N ≠ N – M.
i.
Subset
Subset atau himpunan
bagian adalah suatu himpunan yang merupakan bagian dari himpunan utama. Subset
dinyatakan dengan lambang “⊂”
tetapi jika bukan himpunan bagian dilambangkan dengan “⊄”. Banyaknya anggota himpunan bagian dari K
dirumuskan: 2n(K)dengan n(K) merupakan banyaknya anggota
himpunan K.
Contoh:
Jika diketahui O =
{1, 4, 7}, maka tentukan banyaknya himpunan bagian O.
Penyelesaian:
Diketahui O = {1, 4,
7}, maka n(O) = 3
Banyaknya himpunan bagian O = 2n(O)
Banyaknya himpunan bagian O = 23
Banyaknya himpunan bagian O = 8
Banyaknya himpunan bagian O = 23
Banyaknya himpunan bagian O = 8
Jadi, banyaknya
anggota himpunan bagian dari O ada 8 yaitu { }, {1}, {4}, {7}, {1, 4}, {1, 7},
{4, 7}, {1, 4, 7}.
j.
Absorption
Absorption adalah
himpunan-himpunan yang bila dioperasikan akan terserap menjadi suatu himpunan
tertentu. Absorption dirumuskan sebagai berikut:
A ∪ (A ∩ B) = A ∩ (A ∪ B) = A
Contoh:
Diketahui A = {1, 2,
3} dan B = {0, 3, 4, 5}. Buktikan bahwa A ∪ (A ∩ B) = A ∩ (A ∪ B) = A.
Penyelesaian:
Langkah pertama, kita
buktikan dahulu bahwa A ∪ (A
∩ B) = A.
A ∩ B merupakan
himpunan yang anggotanya terdapat di A dan B yaitu A ∩ B = {3}.
A ∪ (A ∩ B) = {1, 2, 3} ∪ {3}
A ∪ (A ∩ B) = {1, 2, 3}
A ∪ (A ∩ B) = A
Jadi, terbukti bahwa
A ∪ (A ∩ B) = A.
Langkah berikutnya,
kita buktikan bahwa A ∩ (A ∪ B)
= A.
A ∪ B merupakan himpunan yang anggotanya merupakan
gabungan semua anggota A dan B yaitu A ∪ B = {0, 1, 2, 3, 4, 5}.
A ∩ (A ∪ B) = {1, 2, 3} ∩ {0, 1, 2, 3, 4, 5}
A ∩ (A ∪ B) = {1, 2, 3}
A ∩ (A ∪ B) = A
Jadi, terbukti bahwa
A ∩ (A ∪ B)
= A.
Dengan demikian dapat
dikatakan bahwa A ∪ (A
∩ B) = A ∩ (A ∪ B)
= A.
k.
Penghilangan
Jika A = B, maka A ∩
C = A ∩ B untuk C suatu himpunan.
Contoh:
Diketahui A = {k, l,
m}, B = {k, l, m} dan C = {l, m, n, o}. Buktikan bahwa A ∩ C = A ∩ B.
Penyelesaian:
Langkah pertama, kita
tentukan A ∩ C.
A ∩ C = {k, l, m} ∩
{l, m, n, o} = {l, m}
Langkah kedua, kita
tentukan A ∩ B.
B ∩ C = {k, l, m} ∩
{l, m, n, o} = {l, m}
Dengan demikian,
terbukti bahwa A ∩ C = B ∩ C untuk C suatu himpunan.
l.
Dualitas
Prinsip dualitas
berlaku bila kita menukar “∪”
dengan “∩”, “S” dengan “∅”,
dan sebaliknya. Pernyataan baru tersebut disebut dual dari pernyataan aslinya.
Contoh:
Diketahui pernyataan
(A ∪ ∅) ∩
(S ∪ B) = A. Tentukan dual dari pernyataan tersebut.
Penyelesaian:
Dual dari pernyataan
(A ∪ ∅) ∩
(S ∪ B) = A adalah (A ∩ S) ∪ (∅ ∩
B) = A.
- Jelaskan perbedaan bilangan bulat dengan bilangan riil
Bilangan Real
Bilangan riil adalah bilangan yang merupakan gabungan dari
bilangan rasioanal dan bilangan irrasional sendiri.
Contohnya:
0, 1, 2, ½, 4/7, 55/7, √2, √3, √5, .... dan seterusnya.
0, 1, 2, ½, 4/7, 55/7, √2, √3, √5, .... dan seterusnya.
Bilangan Bulat
Bilangan bulat yaitu bilangan yang terdiri atas bilangan
negatif, bilangan 0 (nol), dan bilangan postitif, yaitu: ..., -2, -1, 0, 1, 2,
3, ... , dan seterusnya.
B. Relasi
1. Jelaskan definisi dari
relasi
Relasi adalah hubungan antara elemen himpunan
dengan elemen himpunan yang lain. Cara paling mudah untuk menyatakan hubungan
antara elemen 2 himpunan adalah dengan himpunan pasangan terurut. Himpunan
pasangan terurut diperoleh dari perkalian kartesian.
Definisi 1:
Perkalian kartesian (Cartesian products)
antara himpunan A dan B ditulis: A x B didefinisikan sebagai semua himpunan
pasangan terurut dengan komponen pertama adalah anggota himpunan A dan komponen
kedua adlah anggota himpunan B.
A x B = { (x,y) / x∈A dan y∈B}
Definisi 2:
Relasi biner R antara A dan B adalah himpunan
bagian dari A x B.
A disebut daerah asal dari R (domain) dan B
disebut daerah hasil (range) dari R.
Definisi 3:
Relasi pada A adalah relasi dari A ke
A.
Contoh:
1.1 Misal A = {1,2,3}, B = {a,b}, maka
:
A x B = {(1,a), (1,b), (2,a), (2,b), (3,a),
(3,b)}
1.2 Misal P = {2,4,8,9,15}, B = {2,3,4}.
Relasi R dari P ke Q didefinisikan sebagai:
(p,q) ∈ R jika p habis dibagi q,
maka:
R = {(2,2), (4,2), (8,2), (9,3), (15,3),
(4,4), (8,4)}
1.3 Misal R adalah relasi pada A =
{2,3,4,8,9} yang didefinisikan oleh (x,y)∈R jika x adalah faktor
prima dari y, maka:
R = {(2,2), (2,4), (2,8), (3,3), (3,9)}
2. Menyajikan relasi dengan
matriks relasi dan diagram panah
Misalkan A =
{3,4,5} dan B = {2,4}.
Jika kita
definisikan relasi R dari A ke B dengan aturan
: (a, b) ∈ R jika a faktor
prima dari b maka relasi tersebut dapat digambarkan dengan diagram
panah berikut ini :
3. Jelaskan relasi invers, dan
komposisi relasi
·
Relasi Komposisi
Misalkan f adalah suatu
fungsi dari A ke B dan g adalah fungsi dari B ke C ,
maka suatu fungsi h dari A ke C disebut fungsi komposisi. Fungsi komposisi
tersebut dinyatakan dengan (dibaca: g bundaran f)
Fungsi Komposisi: (f o g)(x)
= f(g(x)
Fungsi Komposisi: (g o f)(x)
= g(f(x))
Sifat-sifat Komposisi Fungsi
1.
Pada umumnya tidak
komutatif.
(g ○ f)(x) ≠ (f ○ g)(x)
2.
Operasi komposisi pada
fungsi bersifat asosiatif.
( f ○
(g ○ h))(x) = ((f ○ g) ○ h)(x)
3.
Terdapat fungsi
identitas
I(x)
= x
(f
○ I)(x) = (I ○ f)(x) = f(x)
·
Relasi Invers
Apabila f adalah
fungsi dari himpunan A ke himpunan B, maka invers fungsi fadalah
suatu relasi dari himpunan B ke himpunan A. Jadi, invers suatu fungsi
tidak selalu merupakan fungsi. Jika
invers suatu fungsi merupakan fungsi, maka invers tersebut dinamakan fungsi
invers dari fungsi semula.
Jika fungsi f : A → B
dinyatakan dengan himpunan pasangan berurutan f -1
: B → A
maka invers fungsi f adalah f = {(x , y)| x Î A, y Î B}
dan dinyatakan sebagai f -1= {(x , y)| y Î B, x Î A}
Fungsi f mempunyai fungsi
invers
jika dan hanya jika f merupakan fungsi (korespondensi
satu-satu)
Langkah-langkah untuk menentukan rumus fungsi
invers apabila fungsi f(x) telah diketahui:
a. Mengubah
persamaan y = f(x) dalam bentuk x sebagai
fungsi y
b. Bentuk x sebagai
fungsi y tersebut dinamakan f -1(y)
c. Mengganti
y pada f -1(y), dan
d. dengan x, sehingga
diperoleh f -1(x)
4. Jelaskan perbedaan sifat
relasi
a. Refleksif
Misalkan R sebuah relasi
yang didefinisikan pada himpunan P. Relasi R dikatakan bersifat refleksif jika
untuk p € P berlaku (p,p) € R.
Contoh :
Contoh :
Diberikan Himpunan P =
{1,2,3}. Didefinisikan relasi R pada himpunan P dengan hasil adalah himpunan S
= {(1,1), (1,2), (2,2), (2,3), (3,3), (3,2)}. Relasi R tersebut bersifat
reflektif sebab setiap angggota himpunan P berpasangan atau berelasi
dengan dirinya sendiri.
b. Transitif
Misalkan R sebuah relasi
pada sebuah himpunan P. Relasi R bersifat Transitif, apabila untuk setiap (x,y)
€ R dan (y,z) € R maka berlaku (x,z) € R.
Contoh :
Contoh :
Diberikan himpunan P
={1,2,3}. Didefinisikan relasi pada himpunan P dengan hasil relasi adalah
himpunan R= {(1,1), (1,2), (1,3), (2,2), (2,1), (3,1), (3,3)}. Relasi R tersebut
bersifat Transitif sebab (x,y) € R din (y,z) € R berlaku (x,z) € R.
c. Simetris
Misalkan R sebuah relasi
pada sebuah himpunan P. Relasi R dikatakan bersifat simetris, apabila untuk
setiap (x,y) € R berlaku (y,x) € R.
Contoh :
Contoh :
Diberikan himpunan P ={1,2,3}.
Didefinisikan relasi R pada himpunan P dengan R ={(1,1), (1,2), (1,3), (2,2),
(2,1), (3,1), (3,3)}. Relasi R tersebut bersifat simetris untuk setiap (x,y) €
R, berlaku (y,x) € R.
d. Anti simetris
Misalkan R sebuah relasi
pada sebuah himpunan P. Relasi R dikatakan bersifat antisimetris, apabila untuk
setiap (x,y) € R dan (y,x) € R berlaku x=y.
Contoh :
Contoh :
Diberikan himpunan C =
{2,4,5}. Didefinisikan relasi R pada himpunan C dengan R = {(a,b) € a kelipatan
b, ab € C} sehingga diperoleh R = {(2,2), (4,4), (5,5), (4,2)}. Relasi R
tersebut bersifat antisimetris.
C. Fungsi
1. Jelaskan definisi fungsi
Fungsi adalah sekelompok aktivitas yang
tergolong pada jenis yang sama berdasarkan sifat atau pelaksanaannya. Dalam
istilah Matematika fungsi merupakan pemetaan setiap anggota sebuah himpunan (dinamakan sebagai domain) kepada anggota himpunan yang lain (dinamakan sebagai kodomain). Konsep fungsi adalah salah satu konsep dasar
dari matematika dan setiap ilmu kuantitatif. Istilah “fungsi”, “pemetaan”,
“peta”, “transformasi”, dan “operator” biasanya dipakai secara sinonim.
Anggota himpunan yang dipetakan dapat berupa apa saja
(kata, orang, atau objek lain), namun biasanya yang dibahas adalah besaran
matematika seperti bilangan riil. Contoh sebuah fungsi dengan domain dan
kodomain himpunan bilangan riil adalah y=f(2x), yang menghubungkan suatu
bilangan riil dengan bilangan riil lain yang dua kali lebih besar. Dalam hal
ini kita dapat menulis f(5)=10.
Domain, Kodomain dan
Range
Domain disebut
juga dengan daerah asal, kodomain daerah kawan sedangkan range adalah daerah hasil.
contoh :
Pada
fungsi diatas, himpunan A disebut domain (daerah asal), himpunan B
disebut kodomain (daerah kawan) dan hasil dari pemetaan tersebut range (daerah
hasil).
Jadi
dari gambar diatas diperoleh:
•
Domainnya (Df) adalah A = {1, 2, 3}.
•
Kodomainnya adalah B = {1, 2, 3, 4}.
•
Rangenya (Rf) adalah {2, 3, 4}.
2. Jelaskan fungsi satu-satu
(one to one) dengan fungsi pada (on to)
·
Fungsi one to one
Suatu fungsi f dari himpunan A ke himpunan B
dikatakan sebagai fungsi satu-satu (one-one function)
bila dan hanya bila f (a) = f (a)’ maka a = a’. Dengan kata lain,
fungsi f adalah
fungsi satu-satu bila setiap anggota himpunan A memiliki bayangan yang berbeda.
·
Fungsi on to
Fungsi
adalah surjective(onto) jika setiap gambar yang mungkin dipetakan oleh
sedikitnya satu argumen . Dengan kata lain , setiap elemen dalam codomain
memiliki preimage tidak kosong . Ekuivalen, fungsi adalah surjective jika
citranya sama dengan codomain nya . Sebuah fungsi surjective adalah surjection
a. Definisi formal adalah sebagai berikut.
Fungsi f : A \ ke B surjective IFF untuk semua b \ di B , ada \ A sedemikian rupa sehingga f ( a) = b .
Sebuah fungsi f : A → B adalah surjective jika dan hanya jika benar - dibalik , yaitu , jika dan hanya jika ada fungsi g : B → A, sehingga kabut = function identitas di B. ( Pernyataan ini setara dengan aksioma pilihan . )
Dengan runtuh semua argumen pemetaan ke gambar tetap yang diberikan , setiap surjection menginduksi bijection didefinisikan pada hasil bagi domainnya . Lebih tepatnya , setiap surjection f : A → B dapat diperhitungkan sebagai proyeksi diikuti oleh bijection sebagai berikut . Biarkan A / ~ menjadi kelas kesetaraan A di bawah relasi ekivalen berikut : x ~ y jika dan hanya jika f (x ) = f ( y ) . Ekuivalen, A / ~ adalah himpunan semua preimages bawah f . Misalkan P ( ~ ) : A → A / ~ menjadi proyeksi peta yang mengirimkan setiap x dalam A ke kelas kesetaraan yang [ x] ~ , dan membiarkan fP : A / B ~ → menjadi fungsi yang terdefinisi dengan baik yang diberikan oleh fP ( [ x] ~ ) = f (x ) . Kemudian f = fP o P ( ~ ) . Sebuah factorisation ganda diberikan untuk suntikan di atas .
Komposisi dari dua surjections lagi surjection , tetapi jika gof adalah surjective , maka hanya dapat disimpulkan bahwa g adalah surjective
Fungsi f : A \ ke B surjective IFF untuk semua b \ di B , ada \ A sedemikian rupa sehingga f ( a) = b .
Sebuah fungsi f : A → B adalah surjective jika dan hanya jika benar - dibalik , yaitu , jika dan hanya jika ada fungsi g : B → A, sehingga kabut = function identitas di B. ( Pernyataan ini setara dengan aksioma pilihan . )
Dengan runtuh semua argumen pemetaan ke gambar tetap yang diberikan , setiap surjection menginduksi bijection didefinisikan pada hasil bagi domainnya . Lebih tepatnya , setiap surjection f : A → B dapat diperhitungkan sebagai proyeksi diikuti oleh bijection sebagai berikut . Biarkan A / ~ menjadi kelas kesetaraan A di bawah relasi ekivalen berikut : x ~ y jika dan hanya jika f (x ) = f ( y ) . Ekuivalen, A / ~ adalah himpunan semua preimages bawah f . Misalkan P ( ~ ) : A → A / ~ menjadi proyeksi peta yang mengirimkan setiap x dalam A ke kelas kesetaraan yang [ x] ~ , dan membiarkan fP : A / B ~ → menjadi fungsi yang terdefinisi dengan baik yang diberikan oleh fP ( [ x] ~ ) = f (x ) . Kemudian f = fP o P ( ~ ) . Sebuah factorisation ganda diberikan untuk suntikan di atas .
Komposisi dari dua surjections lagi surjection , tetapi jika gof adalah surjective , maka hanya dapat disimpulkan bahwa g adalah surjective
3. Jelaskan perbedaan domain,
kodomain, dan range satu fungsi
Domain adalah daerah asal,
kodomain adalah daerah kawan, sedangkan
range adalah daerah hasil
Pada diagram di atas, X merupakan domain dari
fungsi f, Y merupakan kodomain
contoh 1 :
Diketahui himpunan P = { 1,2,3,4 } dan
himpunan Q = { 2,4,6,8,10,12 }
Relasi dari himpunan P ke himpunan Q dinyatakan dengan ” setengah dari “.
Jika relasi tersebut dinyatakan dengan
himpunan pasangan berurutan menjadi :
{ (1,2),(2,4),(3,6),(4,8) }.
Relasi di atas merupakan suatu fungsi karena setiap anggota himpunan P
mempunyai tepat satu kawan anggota
himpunan Q.
Dari fungsi di atas maka :
Domain/daerah asal = himpunan P = { 1,2,3,4 }
Kodomain/daerah kawan = himpunan Q = { 2,4,6,8,10,12 }
Range/daerah hasil = { 2,4,6,8 }
contoh 2 :
Jika A
= {2, 3, 6} B = {2, 4, 6, 8, 10, 11}. Relasi dari himpunan A ke B adalah
“Faktor dari “, nyatakanlah relasi tersebut dengan :
a. Himpunan pasangan berurutan.
Jawab:
a. Himpunan pasangan berurutannya :{(2, 2),
(2,4), (2, 6), (2, 8), (2, 10), (4, 4),
(4, 8),(6, 6)}
contoh 3 :
Tuliskan Domain, Kodomain dan Range dari
relasi Contoh 2 di atas :
Jawab:
Domain = {2, 4, 6}
Kodomain = {2, 4, 6, 8, 10, 11}
Range = { 2, 4, 6, 8, 10}
SUMBER








